Senin, 03 November 2014

Perubahan Budaya akibat Perkebunan kelapa sawit

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Perkebenunan Sawit merupakan perkebunan terbesar di Indonesia dengan luas 13.5 juta hektar. Dan ini akan terus bertambah setiap tahunnya. Kalimantan Barat salah satunya daerah yang merupakan daerah perkebunan sawit terbesar setelah Sumatera. Ini kenapa Indonesia termasuk Negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Asia. Kalau ini terus bertambah maka lahan yang dibutuhkan untuk komoditi kelapa sawit juga akan semangkin bertambah, apalagi perusahaan yang harus memenuhi target dalam menghasilkan CPO agar bisa diekspor keluar Negara di Asia. Bagaimana dengan dampak terhadap lingkungan disekitar dan kehidupan masyarakat disekitarnya. Untuk itu Pemerintah juga harus memperhatikan akibat dari perkembangan kelapa sawit yang terus-terusan meningkat agar keseimbangan terhadap habitat yang ada tetap terjaga.
Seperti keberadaan kelapa sawit di Kalimantan Barat yang berdampak negatif terhadap peradaban manusia dan spesies lainnya. Masyarakat desa yang bergantung pada alam disekitarnya baik itu masyarakat petani, kebun karet, berburu harus rela berpindah sebagai buruh di perkabunan sawit. Dikarenakan lahan untuk bertani kini menjadi lahan perkebunan sawit. Tidak hanya itu, keberadaan makhluk hidup juga mulai terancam dikarenakan tidak memiliki habitat untuk hidup. Hutan yang semangkin lama semangkin hilang akibat pembukaan lahan yang luas.
Dan inilah kenapa budaya masyarakat desa mulai luntur dan sedikit demi sedikit akan hilang, dari budaya bertani, berburu dan menyadap karet kini harus menhadi buruh perkebunan sawit. Seperti budaya masyarakat Dayak misalnya, budaya Naik Dango’ yaitu budaya panen padi dan sebagian dari hasil padi disimpan kerumah kecil (Dango’) sebagai rasa syukur kepada Jubata atau Tuhan. Dan apakah Budaya ini akan tetap bertahan jika masyarakat Dayak yang dulunya petani kini menjadi pekerja diperkebunan sawit.

B.     Rumusan Masalah

Apa dampak negatif dari pembukaan kelapa sawit yang selama ini terus bertambah terutama di Kalimantan Barat.

Perubahan Budaya seperti apa yang terjadi selama adanya perkebunan sawit.

C.     Manfaat

Mahasiswa serta masyakat dapat mengerti dan bisa memahami dampak dari perkebunan sawit.

Mahasiswa dapat memperjuangkan dan mempertahankan Budayanya masing-masing didaerahnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Sawit

Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan dengan penghasil devisa terbesar di Indonesia. Bahkan Indonesia merupakan Negara terbesar penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Sawit adalah tanaman berakar serabut dan tumbuh menyebar mengarah kebawah dan kesamping. Minyak kelapa sawit juga dapat digunakan sebagai bahan biodiesel. Dalam bahasa latin kelapa sawit dinamakan Eleais guinensis jacq, Elaion yang dalam bahasa Yunani berarti minyak. Guinensis berasal dari kata Guinea yaitu Pantai Barat Afrika dan Jacq singkatan dari Jacquin seorang Botanist dari Amerika. Yang bearti tanaman minyak yang berasal dari pantai barat Afrika.
Kelapa sawit berkembangbiak dengan biji, tumbuh didaerah tropis dengan ketinggian 0-500 dpl dengan tingkat kelembapan yang tinggi tentunya dengan curah hujan 2000-2500 mm pertahunnya. Tanaman ini dapat mencapai tinggi 24 meter dengan masa produksi mencapai 25 tahun bahkan lebih sesuai dengan tinggi tanaman tersebut bisa dipanen atau tidak.

B.     Dampak Pembukaan Lahan

Indonesia dikenal dengan luas hutan lindung dengan berbagai keragaman Hayati terutama diwilayah Kalimantan namun semuanya seakan hilang akibat dari pembukaan lahan perkabunan Kelapa sawit yang terus-menerus. Pertumbuhan sub-sektor dibidang ekonomi yang dikembangkan pemertintah Indonesia ternyata banyak mengundang investor asing ikut bergabung. Namun akibat dari keberadaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat ternyata memiliki banyak dampak terhadap lingkungan dan hutan.
Konversi hutan alam masih terus berlangsung hingga kini bahkan semakin menggila karena nafsu pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Demi mencapai maksudnya tadi, pemerintah banyak membuat program ekspnasi wilayah kebun meski harus mengkonversi hutan. Sebut saja Program sawit di wilayah perbatasan Indonesia & Malaysia di pulau Kalimantan seluas 1,8 jt ha dan Program Biofuel 6 juta (6 juta ha untuk kembangkan biofuel) ha. Program pemerintah itu tentu saja sangat diminati investor, karena lahan peruntukan kebun yang ditunjuk pemerintah adalah wilayah hutan. sebelum mulai berinvestasi para investor sudah bisa mendapatkan keuntungan besar berupa kayu dari hutan dengan hanya mengurus surat Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) kepda pihak pemerintah, dalam hal ini departemen kehutanan.
Akibat deforetasi tersebut bisa dipastikan Indonesia mendapat ancaman hilangnya keanekaragaman hayati dari ekosistem hutan hujan tropis. Juga menyebabkan hilangnya budaya masyarakat di sekitar hutan. Disamping itu praktek konversi hutan alam untuk pengembangan areal perkebunan kelapa sawit telah menyebabkan jutaan hektar areal hutan konversi berubah menjadi lahan terlantar berupa semak belukar dan/atau lahan kritis baru, sedangkan realisasi pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak sesuai dengan yang direncanakan.
Dampak negatif yang terungkap dari aktivitas perkebunan kelapa sawit diantaranyai:
Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi. Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.
Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter. Disamping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas karena jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.
Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.
Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.
Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Dampak negatif terhadap lingkungan menjadi bertambah serius karena dalam prakteknya pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi.
Masihkan kita membutuhkan konversi hutan untuk menjadi kebun sawit mengingat dampak negatif yang munculkannya begitu banyak bahaya dan jelas-jelas mengancam keberlangsungan lingkungan hidup? Sebuah pertanyaan untuk kita permenungkan demi kelangsungan dan keseimbangan alam serta penghuninya.

C.     Perubahan Budaya Suku Dayak

Kita mengenal bahwa budaya di Indonesia sangat besar dan beraneka ragam seperti Budaya Dayak Kalimantan Barat. Dan apa perubahan Budaya akibat dari adanya perkebunan kelapa sawit? Tentunya budaya seperti budaya bertani kini harus menjadi pekebun akibat lahan untuk pertanian semangkin sedikit, ditambah lagi perhatian pemerintah terhadap dampak dari perkebunan kelapa sawit sangat kecil. Bahkan sebagian teritorial lahan perkebunan karet berubah menjadi kebun sawit dikarenakan masyarakat tidak mempunyai kekuatan hukum untuk mempertahankan lahan mereka. Banyak masyarakat yang mengeluh dan tidak berdaya untuk merubah mata pencaharian mereka dari petani menjadi karyawan di perkebunan.
Tidak hanya petani yang merasakan dampak ini, pemburu juga terkena dikarenakan hutan sebagai habitat hewan untuk berburu juga berubah fungi. Kebanyakan hewan dan habitat lainnya imigran untuk mencari habibat mereka. Didaerah perbatasan seperti Kalimantan Barat banyak habitat yang pindah ke Negara sebelah seperti Malaysia.
Jika ini terus berlanjut, penulis yakin 10 tahun kemudian Budaya-budaya yang dimiliki masyarakat Dayak Kalimantan Barat akan lenyap seiring dengan perubahan fungsi lahan dari pertanian menjadi perkebunan.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Luasnya lahan perkebunan sawit yang semangkin meningkat ternyata tidak hanya memberikan keuntungan tetapi memiliki dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Seperti konver hutan yang dapat mengurangi habitat dan keragaman hayati yang berakibat pada bencana alam seperti banjir dan longsor.
Perubahan Budaya masyakarat petani kini harus merubah budaya mereka menjadi masyarakat pekebun kelapa sawit dikarenakan lahan untuk pertanian semangkin sempit.

B.     Saran

Harapan kepada pemerintah untuk tetap tegas terhadap investor asing dalam mencegah perluasan lahan kelapa sawit yang semangkin merugikan masyarakat sekitar dan menjadikan bencana alam dan merusak keragaman hayati, dikarenakan Indonesia sangat dikenal dengan keragaman hayatinya bukan sebagai Negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar namun merugikan masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar