BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perkebenunan
Sawit merupakan perkebunan terbesar di Indonesia dengan luas 13.5 juta hektar. Dan
ini akan terus bertambah setiap tahunnya. Kalimantan Barat salah satunya daerah
yang merupakan daerah perkebunan sawit terbesar setelah Sumatera. Ini kenapa
Indonesia termasuk Negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Asia. Kalau
ini terus bertambah maka lahan yang dibutuhkan untuk komoditi kelapa sawit juga
akan semangkin bertambah, apalagi perusahaan yang harus memenuhi target dalam
menghasilkan CPO agar bisa diekspor keluar Negara di Asia. Bagaimana dengan
dampak terhadap lingkungan disekitar dan kehidupan masyarakat disekitarnya.
Untuk itu Pemerintah juga harus memperhatikan akibat dari perkembangan kelapa
sawit yang terus-terusan meningkat agar keseimbangan terhadap habitat yang ada
tetap terjaga.
Seperti
keberadaan kelapa sawit di Kalimantan Barat yang berdampak negatif terhadap
peradaban manusia dan spesies lainnya. Masyarakat desa yang bergantung pada
alam disekitarnya baik itu masyarakat petani, kebun karet, berburu harus rela
berpindah sebagai buruh di perkabunan sawit. Dikarenakan lahan untuk bertani
kini menjadi lahan perkebunan sawit. Tidak hanya itu, keberadaan makhluk hidup
juga mulai terancam dikarenakan tidak memiliki habitat untuk hidup. Hutan yang
semangkin lama semangkin hilang akibat pembukaan lahan yang luas.
Dan
inilah kenapa budaya masyarakat desa mulai luntur dan sedikit demi sedikit akan
hilang, dari budaya bertani, berburu dan menyadap karet kini harus menhadi
buruh perkebunan sawit. Seperti budaya masyarakat Dayak misalnya, budaya Naik
Dango’ yaitu budaya panen padi dan sebagian dari hasil padi disimpan kerumah
kecil (Dango’) sebagai rasa syukur kepada Jubata atau Tuhan. Dan apakah Budaya
ini akan tetap bertahan jika masyarakat Dayak yang dulunya petani kini menjadi
pekerja diperkebunan sawit.
B.
Rumusan Masalah
Apa
dampak negatif dari pembukaan kelapa sawit yang selama ini terus bertambah
terutama di Kalimantan Barat.
Perubahan Budaya
seperti apa yang terjadi selama adanya perkebunan sawit.
C.
Manfaat
Mahasiswa
serta masyakat dapat mengerti dan bisa memahami dampak dari perkebunan sawit.
Mahasiswa dapat
memperjuangkan dan mempertahankan Budayanya masing-masing didaerahnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Sawit
Kelapa
sawit adalah tanaman perkebunan dengan penghasil devisa terbesar di Indonesia.
Bahkan Indonesia merupakan Negara terbesar penghasil minyak kelapa sawit terbesar
di dunia. Sawit adalah tanaman berakar serabut dan tumbuh menyebar mengarah
kebawah dan kesamping. Minyak kelapa sawit juga dapat digunakan sebagai bahan
biodiesel. Dalam bahasa latin kelapa sawit dinamakan Eleais guinensis jacq, Elaion yang dalam bahasa Yunani berarti minyak. Guinensis
berasal dari kata Guinea yaitu Pantai Barat Afrika dan Jacq singkatan dari
Jacquin seorang Botanist dari Amerika. Yang bearti tanaman minyak yang berasal
dari pantai barat Afrika.
Kelapa
sawit berkembangbiak dengan biji, tumbuh didaerah tropis dengan ketinggian
0-500 dpl dengan tingkat kelembapan yang tinggi tentunya dengan curah hujan
2000-2500 mm pertahunnya. Tanaman ini dapat mencapai tinggi 24 meter dengan
masa produksi mencapai 25 tahun bahkan lebih sesuai dengan tinggi tanaman tersebut
bisa dipanen atau tidak.
B.
Dampak Pembukaan
Lahan
Indonesia
dikenal dengan luas hutan lindung dengan berbagai keragaman Hayati terutama
diwilayah Kalimantan namun semuanya seakan hilang akibat dari pembukaan lahan
perkabunan Kelapa sawit yang terus-menerus. Pertumbuhan sub-sektor dibidang
ekonomi yang dikembangkan pemertintah Indonesia ternyata banyak mengundang
investor asing ikut bergabung. Namun akibat dari keberadaan perkebunan kelapa
sawit di Kalimantan Barat ternyata memiliki banyak dampak terhadap lingkungan
dan hutan.
Konversi
hutan alam masih terus berlangsung hingga kini bahkan semakin menggila karena
nafsu pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak sawit
terbesar di dunia. Demi mencapai maksudnya tadi, pemerintah banyak membuat
program ekspnasi wilayah kebun meski harus mengkonversi hutan. Sebut saja
Program sawit di wilayah perbatasan Indonesia & Malaysia di pulau
Kalimantan seluas 1,8 jt ha dan Program Biofuel 6 juta (6 juta ha untuk
kembangkan biofuel) ha. Program pemerintah itu tentu saja sangat diminati
investor, karena lahan peruntukan kebun yang ditunjuk pemerintah adalah wilayah
hutan. sebelum mulai berinvestasi para investor sudah bisa mendapatkan
keuntungan besar berupa kayu dari hutan dengan hanya mengurus surat Ijin
Pemanfaatan Kayu (IPK) kepda pihak pemerintah, dalam hal ini departemen
kehutanan.
Akibat
deforetasi tersebut bisa dipastikan Indonesia mendapat ancaman hilangnya
keanekaragaman hayati dari ekosistem hutan hujan tropis. Juga menyebabkan
hilangnya budaya masyarakat di sekitar hutan. Disamping itu praktek konversi
hutan alam untuk pengembangan areal perkebunan kelapa sawit telah menyebabkan
jutaan hektar areal hutan konversi berubah menjadi lahan terlantar berupa semak
belukar dan/atau lahan kritis baru, sedangkan realisasi pembangunan perkebunan
kelapa sawit tidak sesuai dengan yang direncanakan.
Dampak
negatif yang terungkap dari aktivitas perkebunan kelapa sawit diantaranyai:
Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi. Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.
Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi. Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.
Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
Kerakusan
unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari
satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter. Disamping itu pertumbuhan
kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis
pestisida dan bahan kimia lainnya. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas
karena jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang
keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis
tanaman akibat monokulturasi.
Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.
Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.
Terjadinya
konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa sawit. sebut
saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit
dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat
sistem perijinan perkebunan sawit.
Selanjutnya,
praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit
seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah
longsor. Dampak negatif terhadap lingkungan menjadi bertambah serius karena
dalam prakteknya pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada
kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi,
hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang
unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi.
Masihkan
kita membutuhkan konversi hutan untuk menjadi kebun sawit mengingat dampak
negatif yang munculkannya begitu banyak bahaya dan jelas-jelas mengancam
keberlangsungan lingkungan hidup? Sebuah pertanyaan untuk kita permenungkan
demi kelangsungan dan keseimbangan alam serta penghuninya.
C.
Perubahan Budaya
Suku Dayak
Kita
mengenal bahwa budaya di Indonesia sangat besar dan beraneka ragam seperti Budaya
Dayak Kalimantan Barat. Dan apa perubahan Budaya akibat dari adanya perkebunan
kelapa sawit? Tentunya budaya seperti budaya bertani kini harus menjadi pekebun
akibat lahan untuk pertanian semangkin sedikit, ditambah lagi perhatian
pemerintah terhadap dampak dari perkebunan kelapa sawit sangat kecil. Bahkan
sebagian teritorial lahan perkebunan karet berubah menjadi kebun sawit
dikarenakan masyarakat tidak mempunyai kekuatan hukum untuk mempertahankan
lahan mereka. Banyak masyarakat yang mengeluh dan tidak berdaya untuk merubah
mata pencaharian mereka dari petani menjadi karyawan di perkebunan.
Tidak
hanya petani yang merasakan dampak ini, pemburu juga terkena dikarenakan hutan
sebagai habitat hewan untuk berburu juga berubah fungi. Kebanyakan hewan dan
habitat lainnya imigran untuk mencari habibat mereka. Didaerah perbatasan
seperti Kalimantan Barat banyak habitat yang pindah ke Negara sebelah seperti
Malaysia.
Jika ini terus
berlanjut, penulis yakin 10 tahun kemudian Budaya-budaya yang dimiliki
masyarakat Dayak Kalimantan Barat akan lenyap seiring dengan perubahan fungsi
lahan dari pertanian menjadi perkebunan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Luasnya
lahan perkebunan sawit yang semangkin meningkat ternyata tidak hanya memberikan
keuntungan tetapi memiliki dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya.
Seperti konver hutan yang dapat mengurangi habitat dan keragaman hayati yang
berakibat pada bencana alam seperti banjir dan longsor.
Perubahan
Budaya masyakarat petani kini harus merubah budaya mereka menjadi masyarakat
pekebun kelapa sawit dikarenakan lahan untuk pertanian semangkin sempit.
B.
Saran
Harapan kepada
pemerintah untuk tetap tegas terhadap investor asing dalam mencegah perluasan
lahan kelapa sawit yang semangkin merugikan masyarakat sekitar dan menjadikan
bencana alam dan merusak keragaman hayati, dikarenakan Indonesia sangat dikenal
dengan keragaman hayatinya bukan sebagai Negara penghasil minyak kelapa sawit
terbesar namun merugikan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar