Rabu, 08 April 2015

Artikel Teknik Pengambilan Keputusan

A.    Leader
Leader merupakan orang yang memiliki kekuasaan dan wewenang dalam suatu organisasi maupun pemerintahan. Seorang leader tentunya dipilih dengan berbagai macam alasan dan kecakapan, supaya mampu membawa sebuah perubahan. Dari berbagai sumber yang saya dapatkan setiap leader tentunya mempunyai gaya kepemimpinan yang berbeda-beda dan berikut ini adalah contoh gaya kepemimpinan yang saya ketahui dari berbagai sumber: gaya kepemimpinan Visioner, situasi, otoriter, demokrasi, dan liberal. Dan tentunya setiap gaya kepemimpinan tersebut bertujuan untuk mencapai kepemimpinan yang efesien dan efektif. Karena Leader merupakan Agent of change yang paling utama baik dalam organisasi maupun pemerintahannya.
Berikut ini penjelasan dari tiga gaya kepemimpinan yang kita kenal:
1.      Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian
Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.
2.      Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.
3.      Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire
Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.

B.     Keputusan dengan baik atau efektif
Keputusan merupakan tugas utama seorang leader, dan ini sudah menjadi sebuah tugas yang dijalankan selama kepemimpinannya. Untuk membuat sebuah keputusan dengan baik atau efektif tentunya bukan hal yang mudah bagi seorang leader, maka sebelum keputusan itu disahkan yang nantinya akan menjadi sebuah UU untuk mengatur dan mengontrol maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi seorang leader.
Pertama: Isu, isu yang menjadi masalah dalam masyarakat yang pastinya akan menentukan masa depan rakyat untuk lebih baik yang nanti direncanakan dalam sebuah musyawarah.
Kedua: diorganisasikan setiap isu yang akan dijadikan sebuah keputusan.
Ketiga: pelaksanaan, setiap pelaksanaan keputusan harus berdasarkan apa yang menjadi perencanaan awal dan tentunya tidak menyimpang.
Keempat: control, dalam hal ini selain UU yang mengatur tentunya setiap pelaksana keputusan leader harus bisa mengontrol jalannya keputusan.
Dari keempat hal diatas jika terlaksana dengan baik, maka setiap keputusan akan menjadi efektif.
  
C.    Pelayanan
Pelayanan publik itu: segala kegiatan pelayanan yg dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan kebutuhan penerima pelayanan maupun pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan (Kep. Menpan No 63/KEP/M.PAN/7/2003 ), atau dapat juga diartikan suatu pelayanan yang dilakukan oleh lembaga âlembaga pemerintah kepada masyarakat.
Pelayanan publik memiliki ciri-ciri yang sebetulnya sama dengan yang ada di dunia usaha yaitu; Dengan berusaha memenuhi harapan pelanggan dan merebut kepercayaannyaâ, karena kepercayaan dari pelanggan adalah jaminan atas kelangsungan hidup dari suatu organisasi. Dalam pemerintahan rendahnya kepercayaan masyarakat tersebut pasti akan menimbulkan kekacauan yang berkepanjangan yang pada ahirnya menimbulkan banyak kerugian. Oleh sebab itu meskipun dalam pelayanan publik ini tidak ada keuntungan materi yang langsung dapat dinikmati oleh pemerintah , tetapi dengan memberikan pelayanan prima pada setiap pelayanan publik tentu akan mendatangkan keuntungan dalam bentuk meningkatnya kepercayaan masyarakat, meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pelayanan publik ( pada gangguan keamanan ) dan juga dapat terciptanya tatanan hidup masyarakat yang berdaya dan mandiri.

D.    Politik
Indonesia mempunyai system politik demokrasi Pancasila. System politik ini didasarkan pada pemahaman nilai-nilai mulia yang ada didalam Pancasila. Tetapi butuh di ketahui bahwasanya system demokrasi bakal membawa konsensus untuk mengatur konflik. Lebih jauh lagi, untuk kehidupan bernegara bisa terbagi dalam beragam jenis system. Tak ada system demokrasi yang berbentuk universal. Untuk tersebut, system politik mesti sesuai dengan pandangan hidup, latar belakang histori negara itu, dan kepribadian dari negara itu. Karena, artikel perihal system politik di Indonesia ini butuh untuk di baca ataupun dimengerti.
Indonesia telah alami empat saat kehidupan politik yakni saat pemerintahan pertama Republik Indonesia, saat Orde Lama, saat Orde Baru, serta saat reformasi. Seperti yang disebutkan pada mulanya, system politik Indonesia mempunyai pandangan yang sesuai sama dengan nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila diantaranya nilai kerohanian yang mengaku ada nilai vital yang terdaftar didalam sila-sila Pancasila. Lebih jauh lagi, nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila mempunyai karakter objektif serta subyektif. Hal semacam ini sesuai dengan hasil pemikiran bangsa serta rakyat Indonesia pada terutama. Karena artikel system politik di Indonesia berisi beragam hal tentang system politik yang berpedoman nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila.

E.     Agent perubahan dan Pembangunan
Dalam kompetensi Ilmu Administrasi Negara kiprah atau tujuannya adalah menjadikan mahasiswa menjadi Agent Of Change dan Pembangunan,
Agent Of Change (agen perubahan) merupakan tujuan utama seorang leader mencapai sebuah tujuan yang lebih baik dari sebelumnya.
Pembangunan merupakan kegiatan yang menjadi implementasi dari sebuah perencanaan baik dalam organisasi maupun pemerintahan.

Dan kedua hal tersebut sangat saling berkaitan karena dengan adanya perencanaan dan implementasi pembangunan maka seorang leader telah menciptakan sebuah perubahan dalam system kepemimpinannya.

Senin, 03 November 2014

Perubahan Budaya akibat Perkebunan kelapa sawit

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Perkebenunan Sawit merupakan perkebunan terbesar di Indonesia dengan luas 13.5 juta hektar. Dan ini akan terus bertambah setiap tahunnya. Kalimantan Barat salah satunya daerah yang merupakan daerah perkebunan sawit terbesar setelah Sumatera. Ini kenapa Indonesia termasuk Negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di Asia. Kalau ini terus bertambah maka lahan yang dibutuhkan untuk komoditi kelapa sawit juga akan semangkin bertambah, apalagi perusahaan yang harus memenuhi target dalam menghasilkan CPO agar bisa diekspor keluar Negara di Asia. Bagaimana dengan dampak terhadap lingkungan disekitar dan kehidupan masyarakat disekitarnya. Untuk itu Pemerintah juga harus memperhatikan akibat dari perkembangan kelapa sawit yang terus-terusan meningkat agar keseimbangan terhadap habitat yang ada tetap terjaga.
Seperti keberadaan kelapa sawit di Kalimantan Barat yang berdampak negatif terhadap peradaban manusia dan spesies lainnya. Masyarakat desa yang bergantung pada alam disekitarnya baik itu masyarakat petani, kebun karet, berburu harus rela berpindah sebagai buruh di perkabunan sawit. Dikarenakan lahan untuk bertani kini menjadi lahan perkebunan sawit. Tidak hanya itu, keberadaan makhluk hidup juga mulai terancam dikarenakan tidak memiliki habitat untuk hidup. Hutan yang semangkin lama semangkin hilang akibat pembukaan lahan yang luas.
Dan inilah kenapa budaya masyarakat desa mulai luntur dan sedikit demi sedikit akan hilang, dari budaya bertani, berburu dan menyadap karet kini harus menhadi buruh perkebunan sawit. Seperti budaya masyarakat Dayak misalnya, budaya Naik Dango’ yaitu budaya panen padi dan sebagian dari hasil padi disimpan kerumah kecil (Dango’) sebagai rasa syukur kepada Jubata atau Tuhan. Dan apakah Budaya ini akan tetap bertahan jika masyarakat Dayak yang dulunya petani kini menjadi pekerja diperkebunan sawit.

B.     Rumusan Masalah

Apa dampak negatif dari pembukaan kelapa sawit yang selama ini terus bertambah terutama di Kalimantan Barat.

Perubahan Budaya seperti apa yang terjadi selama adanya perkebunan sawit.

C.     Manfaat

Mahasiswa serta masyakat dapat mengerti dan bisa memahami dampak dari perkebunan sawit.

Mahasiswa dapat memperjuangkan dan mempertahankan Budayanya masing-masing didaerahnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Sawit

Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan dengan penghasil devisa terbesar di Indonesia. Bahkan Indonesia merupakan Negara terbesar penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Sawit adalah tanaman berakar serabut dan tumbuh menyebar mengarah kebawah dan kesamping. Minyak kelapa sawit juga dapat digunakan sebagai bahan biodiesel. Dalam bahasa latin kelapa sawit dinamakan Eleais guinensis jacq, Elaion yang dalam bahasa Yunani berarti minyak. Guinensis berasal dari kata Guinea yaitu Pantai Barat Afrika dan Jacq singkatan dari Jacquin seorang Botanist dari Amerika. Yang bearti tanaman minyak yang berasal dari pantai barat Afrika.
Kelapa sawit berkembangbiak dengan biji, tumbuh didaerah tropis dengan ketinggian 0-500 dpl dengan tingkat kelembapan yang tinggi tentunya dengan curah hujan 2000-2500 mm pertahunnya. Tanaman ini dapat mencapai tinggi 24 meter dengan masa produksi mencapai 25 tahun bahkan lebih sesuai dengan tinggi tanaman tersebut bisa dipanen atau tidak.

B.     Dampak Pembukaan Lahan

Indonesia dikenal dengan luas hutan lindung dengan berbagai keragaman Hayati terutama diwilayah Kalimantan namun semuanya seakan hilang akibat dari pembukaan lahan perkabunan Kelapa sawit yang terus-menerus. Pertumbuhan sub-sektor dibidang ekonomi yang dikembangkan pemertintah Indonesia ternyata banyak mengundang investor asing ikut bergabung. Namun akibat dari keberadaan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat ternyata memiliki banyak dampak terhadap lingkungan dan hutan.
Konversi hutan alam masih terus berlangsung hingga kini bahkan semakin menggila karena nafsu pemerintah yang ingin menjadikan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia. Demi mencapai maksudnya tadi, pemerintah banyak membuat program ekspnasi wilayah kebun meski harus mengkonversi hutan. Sebut saja Program sawit di wilayah perbatasan Indonesia & Malaysia di pulau Kalimantan seluas 1,8 jt ha dan Program Biofuel 6 juta (6 juta ha untuk kembangkan biofuel) ha. Program pemerintah itu tentu saja sangat diminati investor, karena lahan peruntukan kebun yang ditunjuk pemerintah adalah wilayah hutan. sebelum mulai berinvestasi para investor sudah bisa mendapatkan keuntungan besar berupa kayu dari hutan dengan hanya mengurus surat Ijin Pemanfaatan Kayu (IPK) kepda pihak pemerintah, dalam hal ini departemen kehutanan.
Akibat deforetasi tersebut bisa dipastikan Indonesia mendapat ancaman hilangnya keanekaragaman hayati dari ekosistem hutan hujan tropis. Juga menyebabkan hilangnya budaya masyarakat di sekitar hutan. Disamping itu praktek konversi hutan alam untuk pengembangan areal perkebunan kelapa sawit telah menyebabkan jutaan hektar areal hutan konversi berubah menjadi lahan terlantar berupa semak belukar dan/atau lahan kritis baru, sedangkan realisasi pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak sesuai dengan yang direncanakan.
Dampak negatif yang terungkap dari aktivitas perkebunan kelapa sawit diantaranyai:
Persoalan tata ruang, dimana monokultur, homogenitas dan overloads konversi. Hilangnya keaneka ragaman hayati ini akan memicu kerentanan kondisi alam berupa menurunnya kualitas lahan disertai erosi, hama dan penyakit.
Pembukaan lahan sering kali dilakukan dengan cara tebang habis dan land clearing dengan cara pembakaran demi efesiensi biaya dan waktu.
Kerakusan unsur hara dan air tanaman monokultur seperti sawit, dimana dalam satu hari satu batang pohon sawit bisa menyerap 12 liter. Disamping itu pertumbuhan kelapa sawit mesti dirangsang oleh berbagai macam zat fertilizer sejenis pestisida dan bahan kimia lainnya. Munculnya hama migran baru yang sangat ganas karena jenis hama baru ini akan mencari habitat baru akibat kompetisi yang keras dengan fauna lainnya. Ini disebabkan karena keterbatasan lahan dan jenis tanaman akibat monokulturasi.
Pencemaran yang diakibatkan oleh asap hasil dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran dan pembuangan limbah, merupakan cara-cara perkebunan yang meracuni makhluk hidup dalam jangka waktu yang lama. Hal ini semakin merajalela karena sangat terbatasnya lembaga (ornop) kemanusiaan yang melakukan kegiatan tanggap darurat kebakaran hutan dan penanganan Limbah.
Terjadinya konflik horiziontal dan vertikal akibat masuknya perkebunan kelapa sawit. sebut saja konflik antar warga yang menolak dan menerima masuknya perkebunan sawit dan bentrokan yang terjadi antara masyarakat dengan aparat pemerintah akibat sistem perijinan perkebunan sawit.
Selanjutnya, praktek konversi hutan alam untuk pembangunan perkebunan kelapa sawit seringkali menjadi penyebab utama bencana alam seperti banjir dan tanah longsor. Dampak negatif terhadap lingkungan menjadi bertambah serius karena dalam prakteknya pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi.
Masihkan kita membutuhkan konversi hutan untuk menjadi kebun sawit mengingat dampak negatif yang munculkannya begitu banyak bahaya dan jelas-jelas mengancam keberlangsungan lingkungan hidup? Sebuah pertanyaan untuk kita permenungkan demi kelangsungan dan keseimbangan alam serta penghuninya.

C.     Perubahan Budaya Suku Dayak

Kita mengenal bahwa budaya di Indonesia sangat besar dan beraneka ragam seperti Budaya Dayak Kalimantan Barat. Dan apa perubahan Budaya akibat dari adanya perkebunan kelapa sawit? Tentunya budaya seperti budaya bertani kini harus menjadi pekebun akibat lahan untuk pertanian semangkin sedikit, ditambah lagi perhatian pemerintah terhadap dampak dari perkebunan kelapa sawit sangat kecil. Bahkan sebagian teritorial lahan perkebunan karet berubah menjadi kebun sawit dikarenakan masyarakat tidak mempunyai kekuatan hukum untuk mempertahankan lahan mereka. Banyak masyarakat yang mengeluh dan tidak berdaya untuk merubah mata pencaharian mereka dari petani menjadi karyawan di perkebunan.
Tidak hanya petani yang merasakan dampak ini, pemburu juga terkena dikarenakan hutan sebagai habitat hewan untuk berburu juga berubah fungi. Kebanyakan hewan dan habitat lainnya imigran untuk mencari habibat mereka. Didaerah perbatasan seperti Kalimantan Barat banyak habitat yang pindah ke Negara sebelah seperti Malaysia.
Jika ini terus berlanjut, penulis yakin 10 tahun kemudian Budaya-budaya yang dimiliki masyarakat Dayak Kalimantan Barat akan lenyap seiring dengan perubahan fungsi lahan dari pertanian menjadi perkebunan.

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Luasnya lahan perkebunan sawit yang semangkin meningkat ternyata tidak hanya memberikan keuntungan tetapi memiliki dampak negatif terhadap lingkungan sekitarnya. Seperti konver hutan yang dapat mengurangi habitat dan keragaman hayati yang berakibat pada bencana alam seperti banjir dan longsor.
Perubahan Budaya masyakarat petani kini harus merubah budaya mereka menjadi masyarakat pekebun kelapa sawit dikarenakan lahan untuk pertanian semangkin sempit.

B.     Saran

Harapan kepada pemerintah untuk tetap tegas terhadap investor asing dalam mencegah perluasan lahan kelapa sawit yang semangkin merugikan masyarakat sekitar dan menjadikan bencana alam dan merusak keragaman hayati, dikarenakan Indonesia sangat dikenal dengan keragaman hayatinya bukan sebagai Negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar namun merugikan masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

Minggu, 02 November 2014

Hakekat Teori-Teori Sosial dalam Realita Interaksi Sosial

Hakekat Teori-Teori Ilmu Sosial dalam Realita Interaksi Sosial

Manusia mempunyai kemampuan untuk menciptakan dan memanipulasi symbol-simbol. Kemampuannya itu diperlukan untukn komunikasi antarpribadi dan pikiran subjektif. Guna memandang proses dan relativitas bentuk-bentuk yang ada, maka Mead selanjutnya menggunakan tiga perspektif yang berbeda; evolusionisme Darwin, idealism dialektis Jerman, dan pragmatism Amerika, meskipun Mead menolak dikatakan hanya mensintesis ketiga perpektif itu.

Sikap-isyarat (Gestur)
Gertur adalah gerakan organisme pertama yang bertindak sebagai rangsangan khusus yang menimbulkan tanggapan (secara social) yang tepat dari organisme kedua. Isyarat suara sangat penting perannya dalam pengembangan isyarat yang signifikan. Namun, tak semua isyarat suara signifikan, kekhususan manusia dibidang isyarat (bahasa) ini pada hakikatnya yang bertanggung jawab pada asal-muasal pertumbuhan masyarakat dan pengetahuan manusia sekarang dengan seluruh control terhadap alam dan lingkungan dimungkinkan berkat pengtahuan.

Simbol-simbol Signifikan
Symbol Signifikan adalah sejenis gerak isyarat yang hanya dapat diciptakan oleh manusia. Isyarat menjadi symbol signifikan bila muncul dari individu yang membuat symbol-simbol itu sama dengan dengan sejenis tanggapan (tetapi tidak perlu sama) yang diperoleh dari orang yang menjadi sasaran isyarat. Jadi disini dapat disimpulkan symbol-simbol signifikan ada 2, yaitu: symbol Bahasa dan Simbol Isyarat Fisik: -Fungsi bahasa ataw symbol yang signifikan pada umumnya adalah menggerakan tindakan yang sama dipikhak individu yang berbicara dan juga pihak yang lainnya. Pengaruh lain dari bahasa merangsang orang yang berbicara  dan orang yang mendengarkannya. –Simbol Isyarat Fisik, menciptakan peluang diantara individu yang terlibat dalam tindakan social tertntu untuk mengacu pada objek ataw objek-objek yang menjadi sasaaran tindakan itu,

Pikiran (mind)
Didefinisikan mead sebagai proses percakapan seseorang dengan sendirinya, tidak ditemukan dalam diri individu; pikiran adalah fenomena social. Pikiran muncul dan berkembang dalam proses social dan merupakan bagian integral dari proses social. Dan karakteristik istimewa dari pikiran adalah kemampuan individu untuk “memunculkan dalam dirinya sendiri tidak hanya satu respon saja, tetapi juga respon komunitas secara keseluruhan, itulah yang dinamakan pikiran”.

Diri (self)
Pada dasarnya diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai objek. Diri adalah kemampuan khusus untuk menjadi subjek maupun objek, untuk mempunyai diri, individu harus mencapai keadaan “diluar dirinya sendiri” sehingga mampu mengevaluasi diri sendiri, mampu menjadi objek bagi dirinya sendiri. Dalam bertindak rasional ini mereka mencoba memeriksa diri sendiri secara inpersonal, objektif dan tanpa emosi, Mead mengidentifikasi dua aspek atau fase diri, yang ia namakan I dan Me. Mead menyatakan, diri pada dasarnya diri adalah proses social yang berlangsung dalam dua fase yang dapat dibedakan, perlu diingat I dan ME adalah proses yang terjadi didalam proses diri yang lebih luas. Bagian terpenting dari pembahasan Mead adalah hubungan timbal balik antara diri sebagai objek dan diri sebagai subjek. Diri sebagai objek ditujukan oleh Mead melalui konsep Me, sementara ketika sebagai subjek yang bertindak ditunjukan dengan konsep I.

jadi jika dikaitkan dengan kompetensi yang nanti akan saya ambil tentunya sangat berperan terhadap diri pribadi dalam realita sosial dunia pekerjaan. menentukan sikap dengan bawahan/atasan, berpikir dalam menetukan kebijakan, menyadari kelebihan dan kekurangan diri sendiri dalam menghadapi masyarakat.

sumber : http://ronikurosaky.blogspot.com/, dan teori Goerge Herbert Mead (Teori Interaksi Simbolik)

Rabu, 09 Juli 2014

Human Relation dalam dunia perusahaan

Human relation dalam arti sempit dapat diartikan sebagai komunikasi peruasif yang dilakukan seseorang kepada orang lain secara tatap muka dalam situasi kerja, dan dalam organisasi perusahaan dengan tujuan untuk menggugah kegairahan dan kegiatan kerja dengan semangat kerja sama yang produktif dengan perasaan senang dan puas.
Dalam lingkungan bisnis, human relation dirasakan sangat penting oleh para manajer, karena Human relation dapat menghilangkan kerugian akibat salah komunikasi dan salah interpretasi yang terjadi antara manajer beserta para pegawainya dengan publik diluar organisasi. Dengan demikian para manajer perlu melakukan human relation, baik pada khalayak atau publik di dalam organisasi, maupun kepada khalayak diluar organisasi selain dalam hubungan dengan tugas pekerjaan, juga diluar tugas pekerjaan. Human relation perlu dilaksanakan untuk meniadakan gangguan sebagai akibat salah komunikasi dan salah interpretasi. Lebih-lebih untuk untuk menghilangkan frustasi terutama frustasi agresif, serta menggugah kegairahan dan kegiatan kerja. Diluar tugas pekerjaan pun, para manajer, baik manajer tingkat tinggi, tingkat menengah maupun tingkat rendah, serta seluruh pegawai sepantasnya selalu melakukan human relation dengan siapapun, selain dengan orang-orang yang ada sangkut-pautnya dengan organisasi, juga dengan mereka yang tidak ada hubungannya. Human relation ini dilakukan di perkumpulan-perkumpulan olah raga, keagamaan, kesenian, dalam konverensi, seminar dan lain sebagainya, bahkan di tempat-tempat umum seperti restoran, stasiun, toko dan lingkungan rumah. Hal ini dilakukan demi menjaga citra organisasi perusahaan. Prilaku seluruh pegawai perusahaan yang baik dan etis. Human Relation dalam perusahaan memainkan peran dalam hal konseling, ditinjau dari segi komunikasi Konseling adalah komunikasi antar persona. Yang bertindak sebagai konselor adalah manajer atau pemimpin (kepala bagian, kepala sekasi, dan supervisor). Sedangkan konselingnya adalah karyawan yang menghadapi suatu masalah atau mengalami frustasi. Peran konselor hanyalah memberikan pengertian tentang masalah yang belum jelas serta memberi nasehat. dan konseli sendirilah yang akan mengambil keputusan.

Dengan demikian besarnya fungsi dari human relation sangat diutamakan dalam sebuah perusahaan demi menjaga relasi dengan public, namun bukan hanya kepada public melainkan atasan dengan bawahan sama seperti yang tela dijelaskan diatas.

Rabu, 18 Juni 2014

Stereotip Visioner

Stereotip Visioner
Stereotip Visioner adalah penilaian terhadap visi seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompokdimana visi orang tersebut dapat dikategorikan. Bagaimana kita bisa membuktikan kepada publik bahwa kita bisa membawa perubahan dalam organisasi tertentu dan yang tentunya dengan kepemimpinan yang efektif dan efesien. Bisa memberikan jawaban yang dapat menjadikan rasa kepercayaan penuh publik kepada seorang pemimpin serta secara terbuka dalam menjalankan kepemimpinan. Sehingga nanti kita bisa dikatakan sebagai "SMART LEADERSHIP" baik dalam proses belajar maupun pengalaman.

Faktor-faktor pendukung:
  1. kesamaan tujuan dalam merealisasikan visi.
  2. dukungan teori yang telah dipelajari mengenai kepemimpinan.
  3. mempunyai pengalaman seorang pemimpin.
  4. kepercayaan dari anggota maupun masyarakat.
Faktor-faktor penghambat:
  1. tidak ada dukungan dari anggota.
  2. kepentingan diri sendiri.
  3. tidak mempunyai pengalaman.
Untuk bisa memecahkan masalah diatas tentunya dengan memberikan kepercayaan anggota kepada pemimpin, menjalin komunikasi yang baik, serta meningkatkan kerja sama antara pemimpin dengan anggota. Seorang pemimpin juga harus bisa memimpin dengan situasional yang cocok dengan anggota yang dipimpin supaya dalam pembuatan sebuah kebijakan mendapat dukungan penuh dari anggota, agar menjadikan kita sebagai seorang yang dikatakan "SMART LEADERSHIP".

Rabu, 21 Mei 2014

Defenisi Kompetensi Etika dan Filsafat Kepemimpinan dari berbagai pendekatan



CAPAIAN DARI BEBERAPA KOMPETENSI ETIKA DAN FILSAFAT KEPEMIMPINAN

1)      Pendekatan Ilmu/pengetahuan (knowledge)
a)   Pengetahuan terhadap teori-teori kepemimpinan yang telah dipelajari dalam mata kuliah etika dan filsafat kepemiminan, ini ditujukan agar nanti sebagai lulusan yang berkompetensi mampu memberikan dan menerapkan kepada sebuah organisasi ataupun masyarakat yang akan kita pimpin nantinya.

b)     Kecenderungan orang menilai kita itu adalah seberapa besar ilmu /pengetahuan yang kita dapat dari apa yang telah kita pelajari, dan untuk lebih memberi keyakinan kepada masyarakat bahwa kita sebagai lulusan yang memiliki kompetensi dari pendekatan ilmu /pengetahuan itu adalah sejauh mana seorang lulusan bisa memberikan contoh calon seorang pemimpin yang memiliki etika dan filsafat dengan beberapa pembuktian secara efesien dan efektif.

2)      Pendekatan keterampilan (skills)
a) Menjadikan diri pribadi yang memiliki keterampilan pemimpin dalam melaksanakan tugas kepemimpinan yang beretika dan filsafat, yang mampu memberikan perubahan dalam sebuah organisasi, memiliki kemampuan pikir dan tindak yang efektif dan kreatif dalam ranah abstrak dan konkret sesuai dengan yang diajarkan dalam mata kuliah etika dan filsafat kepemimpinan.

b)   Seorang mahasiswa tentunya harus memiliki keterampilan dalam menyiapkan dirinya sebagai lulusan yang berkompeten dalam bidang keterampilan dan tentunya siap terjun ke dunia kerja maupun sebagai seorang pemimpin di daerah masing-masing.

3)      Pendekatan sikap/perilaku (attitude)
a)    Memiliki sikap yang disiplin adalah tindakan yangmenunjukkan perilaku tertiban patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
b)     Tanggungjawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan(alam,sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

4)      Desain Kompetensi Sikap dan Perilaku kepemimpinan
a)      Standar Kompetensi
           Mahasiswa mampu mendesain satu proposal penelitian kepemimpinan berdasarkan salah satu  
           kerangka teori strukturalisme, atau strukturalisme genetik, atau semiotic, atau hermeneutik, atau  
           feminis.
b)     Kompetensi Dasar
ü  Mengkritik teori strukturalisme meliputi pendekatan, teori, metode, dan asumsi tentang sikap dan perilaku kepemimpinan.
ü  Mengkritik teori strukturalisme genetik meliputi pendekatan, teori, metode, dan asumsi tentang sikap dan perilaku kepemimpinan.
ü  Mengkritik teori semiotik meliputi pendekatan, teori, metode, dan asumsi tentang sikap dan perilaku kepemimpinan.
ü  Mengkritik teori hermeneutik meliputi pendekatan, teori, metode, dan asumsi tentang sikap dan perilaku kepemimpinan.
ü  Mengkritik teori feminis meliputi pendekatan, teori, metode, dan asumsi tentang sikap dan perilaku kepemimpinan.
c)      Indikator Kompetensi
·         Mengkritik teori strukturalisme meliputi pendekatan, teori, metode, dan asumsi tentang sikap dan perilaku kepemimpinan.
1.      Menguraikan historisitas teori strukturalisme.
2.      Menguraikan kelebihan dan kekurangan pendekatan objektif.
3.      Menguraikan kelebihan dan kekurangan teori strukturalisme.
4.      Menguraikan kelebihan dan kekurangan metode dan prosedur teori strukturalisme.
5.      Menguraikan asumsi-asumsi tentang sikap dan perilaku kepemimpinan  berdasarkan teori strukturalisme.
·         Mengkritik teori strukturalisme genetik meliputi pendekatan, teori, metode, dan asumsi tentang sikap dan perilaku
kepemimpinan.Mengkritik teori semiotik meliputi pendekatan, teori, metode, dan asumsi tentang sikap dan perilaku kepemimpinan
1.      Menguraikan historisitas teori strukturalisme genetik.
2.      Menguraikan kelebihan dan kekurangan pendekatan objektif.
3.      Menguraikan kelebihan dan kekurangan teori strukturalisme genetik.
4.      Menguraikan kelebihan dan kekurangan metode dan prosedur teori strukturalisme genetik.
5.      Menguraikan asumsi-asumsi tentang sikap dan perilaku kepemimpinan  berdasarkan teori strukturalisme genetik.