kepemimpinan
Kepemimpina adalah upaya untuk
mempengaruhi banyak orang melalui komunikasi untuk mencapai tujuan. Andrew J.
Du Brin, Leadership, Prenada Media group, 2009, h 4.
Bagaimana nantinya seorang
pemimpin mampu menjadi “Agent Of Change” untuk organisasinya. Tentunya akan
berhubungan dengan berbagai teori-teori, cara, gaya, system dan kepribadian
pemimpin itu sendiri.
Organisasi
-
Organisasi
-
Leader
– Leadership
-
Follower
– Followership
Munculnya followership disebabkan
adanya leadership. Follower para individu yang berada didalam dan menjadi
bagian organisasi, tidak hanya bekerja tetapi memiliki kepentingan yang lebih
luas terhadap organisasi, sebagaimana leader. Jadi seorang leader bukan bearti
harus memamfaatkan secara maksiamal follower.
Teori X,Y dan Z
Dalam kepemimpinan teori ini
digunakan untuk memahami karakter manusia. Mengenal pribadi buruk baik manusia
itu sendiri.
A.
Teori
X
Teori
x merupakan teori yang memahami sifat buruk manusia. Manusia yang pemalas
sedikit ingin bekerja dan mau mengharapkan jaminan kerja layak. Dalam pekerjaan
tidak memiliki rasa tanggungjawab, tidak memiliki motivasi mengembangkan
pekerjaan, tidak mempunyai dorongan untuk maju, bekerja harus selalu diawasi.
Sifat inilah yang membuat sebuah organisasi sulit untuk menemukan tujuan. Oleh
karena itu mereka harus selalu diberi motivasi berupa ransangan dari luar,
sedikit dipaksa dan dikrontrol agar bisa mempertanggungjawabkan kesamaan
pribadi dengan organisasi. ( McGregor, D. (1960). The Human Side of Enterprise,
New York, McGrawHill).
B.
Teori
Y
Teori
Y merupakan teori yang mempelajari sifat baik manusia. Bertolak belakang dengan
teori X, dalam teori Y manusia lebih menyamakan pekerjaan dengan kegiatan rutin
sehari-hari, memiliki tanggungjawab, mempunyai motivasi untuk maju. Dalam
bekerja mereka tidak harus selalu dikontrol dan diberi rangsangan. Karena
mereka lebih bisa mengontrol, memotivasi dan meransang diri sendiri. Memiliki
kreativitas, imajinasi dan ingin maju.
Ada
juga manusia yang senang ingin memiliki banyak pekerjaan dengan mengandalkan kekuatan
fisik dan mental. Dan ada juga dengan sifat mencintai 1 pekerjaan tekun dan
giat. ( McGregor, D. (1960).
C.
Teori
Z
Dalam
organisasi apabila semua berjalan dengan baik maka pengarahan yang dilakukan
harus memperhatikan sisi baik teori X dan Y.
Sebagai
seorang pemimpin harus bisa memberikan sanksi, hukuman, control kepada bawahan.
Agar bisa lebih bersifat lebih tegas, atau bahkan mungkin hanya memberikan
control dan motivasi, memimpin secara halus dan baik.
Dalam
pekerjaan masa jabatan yang diberikan panjang, memperhatikan perkembangan
modernisasi, system informasi, manajemen yang berdasarkan sasaran, perencanaan
formal dan teknik pengembangan yang baik.
Teori Z memperhatikan perkembangan karyawan, memberikan motivasi
pekerjaan tidak hanya berupa fisik dan mental tetapi memberikan jaminan kerja.
Sebagai contoh: kita dapat meniru gaya perusahaan di jepang yang memiliki
kedisiplinan yang tinggi, yang kita tahu bahwa perkembangan ekonomi di jepang
jauh sangat baik.
1. Pada
gambar tersebut terdapat 2 koordinat sumbu x-y yang digunakan untuk menentukan
area kekuasaan dan kebebasan antara koordinat x dan koordinat y dari titik
tersebut.
Pada
area “Penggunaan kekuasaan oleh Pemimpin” sumbu x-y tersebut memberikan
penjelasan bahwa. para pemimpin menggunakan kekuasaan secara otoritatif
dimana kekuasaan dipegang penuh oleh pemimpin terlihat dari sumbu x-y yang
mengerucut ke atas.
Sedangkan
pada “area kebebasan bawahan” pemimpin membeikan kebebasan kepada bawahan
secara penuh sehingga terciptalah kepemimpinan secara demokratis hal tersebut
terlihat dari sumbu x-y yang semakin luas ke atas.
2.
Jika
digambarkan dengan teori likert pada gambar tersebut akan memunculkan
penjelasan yang disebut dengan system 4. System 4 tersebut merupakan
perbandingan antara perilaku kepemimpinan. System 4 tersebut berupa otokratis
pemerasan, otokratis bijak, kepemimpinan konsultasi, kepemimpinan peran serta
kelompok. Dan ditambah perilaku yang dikemukakan oleh lewin yaitu; otokratis,
demokratis, liberal. Dapat ditunjukan dalam pada gambar diatas.
Dari
kesimpulan tersebut dapat diambil kesimpulan dan penjelasan lebih mendalam
seperti table dibawah ini.
(Tabel:
Sutarto, Dasar-dasar Kepemimpinan Administrasi, (Gajah Mada Press 2001), 95.)
Variabel
Kepemimpinan
|
S1
|
S2
|
S3
|
S4
|
1.
Kepercayaan dan
penghargaan pada bawahan
|
Memiliki
rasa rendah diri kepercayaan dan penghargaan, seperti tuan terhadap pelayan
|
Kuat
tetapi tidak lengkap dalam kepercayaan; masih mengharapkan menguasai control
keputusan
|
Kepercayaan
dan penghargaan lengkap untuk segala hal.
|
|
Perasaan
kebebasan bawahan.
|
Bawahan
sama sekali tidak merasakan bebas untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan
atasannya
|
Bawahan
tidak merasa amat bebas untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya
|
Bawahan
agak merasa bebas untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya.
|
Bawahan
merasa bebas sepenuhnya untuk berdiskusi tentang pekerjaan dengan atasannya.
|
Atasan
mencari keterlibatan dengan bawahan
|
Jarang
mengambil gagasan dan pendapat dari bawahan dalam pemecahan masalah
|
Kadang-kadang
mengambil gagasan dan pendapat bawahan dalam pemecahan masalah
|
Biasanya
mengambil gagasan dan pendapat bawahan dan biasanya mencoba membuat berguna
dengan memakai gagasan dan pendapat bawahan
|
Selain
meminta bawahan untuk menyampaikan gagasan dan pendapat dan selalu membuat
berguna dengan memakai gagasan mereka.
|
Sifat diri dari setiap orang
a. ID
1.
Id adalah satu-satunya komponen
kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan
termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber
segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian.
2.
Id didorong oleh prinsip kesenangan,
yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan, keinginan, dan
kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya adalah kecemasan
negara atau ketegangan.
3.
Sebagai contoh, peningkatan rasa
lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini
sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi
terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan
id terpenuhi.
4.
Namun, segera memuaskan kebutuhan
ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah seluruhnya
oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih hal-hal yang
kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan kita sendiri.
Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat diterima.
Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang diciptakan oleh
prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan pembentukan citra
mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk memuaskan kebutuhan.
b.
EGO
Ego adalah komponen kepribadian yang
bertanggung jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego
berkembang dari id dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam
cara yang dapat diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar,
prasadar, dan tidak sadar.
2.
Ego bekerja berdasarkan prinsip
realitas, yang berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang
realistis dan sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat
dari suatu tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan
impuls. Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda
kepuasan – ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam
waktu yang tepat dan tempat.
3.
Ego juga pelepasan ketegangan yang
diciptakan oleh impuls yang tidak terpenuhi melalui proses sekunder, di mana
ego mencoba untuk menemukan objek di dunia nyata yang cocok dengan gambaran
mental yang diciptakan oleh proses primer id’s.
c.
SUPEREGO
Komponen terakhir untuk
mengembangkan kepribadian adalah superego. superego adalah aspek kepribadian
yang menampung semua standar internalisasi moral dan cita-cita yang kita
peroleh dari kedua orang tua dan masyarakat – kami rasa benar dan salah.
Superego memberikan pedoman untuk membuat penilaian.
GAYA KEPEMIMPINAN
Gaya
kepemimpinan ada 3 macam:
1. Otoriter
Kata otokratik dapat diartikan
sebagai tindakan menurut kemauan sendiri, setiap produk pemikiran dipandang
benar, keras kepala, atau rasa “aku” yang keberterimaannya pada khalayak
bersifat dipaksakan. Ketika perilaku atau sikap itu ditampilkan oleh pimpinan,
lahirlah yang disebut dengan kepemimpinan otokratik atau kepemimpinan otoriter.
Kepemimpinan otokratik bertolak dari anggapan bahwa pimpinanlah yang memiliki
tanggung jawab poenuh terhadap organisasi. Pemimpin otokratik berasumsi bahwa
maju-mundurnya organisasi hanya tergantung kepada dirinya. Dia bekerja
sungguh-sungguh, belajar kelas, tertib, dan tidak boleh dibantah. Sikapnya
senantiasa mau menang sendiri, tertutup terhadap ide dari luar, dan hanya
idenya yang dianggap akurat. Pimpinan otokratik memiliki ciri antara lain:
· Beban kerja organisasi pada umumnya ditanggung oleh pimpinan.
· Bawahan, oleh pimpinan hanya dianggap sebagai pelaksana dan mereka tidak boleh memberikan ide-ide baru.
· Bekerja keras, disiplin tinggi dan tidak kenal lelah.
· Menentukan kebijakan sendiri dan kalaupun bermusyawarah sifatnya hanya penawaran saja.
· Memiliki kepercayaan rendah terhadap bawahan dan kalaupun kepercayaan diberikan, di dalam dirinya penuh ketidakpercayaan.
· Komunikasi dilakukan secara tertutup dan satu arah.
· Korektif dan minta penyelesaian tugas pada waktu sekarang.
Kelebihan tipe kepemimpinan otoriter:
· Seorang pemimpin otoriter biasanya bersifat pekerja keras dan memiliki disiplin tinggi.
· Penentuan keputusan lebih cepat karena tidak menggunakan musyawarah atau diskusi.
Kekurangan tipe kepemimpinan otoriter:
· Bawahan tidak memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide-ide baru.
· Kurangnya komunikasi antara pimpinan dan bawahan.
· Bawahan kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Sumber: http://aritmaxx.wordpress.com/2011/04/03/kepemimpinan-otoriter/
· Beban kerja organisasi pada umumnya ditanggung oleh pimpinan.
· Bawahan, oleh pimpinan hanya dianggap sebagai pelaksana dan mereka tidak boleh memberikan ide-ide baru.
· Bekerja keras, disiplin tinggi dan tidak kenal lelah.
· Menentukan kebijakan sendiri dan kalaupun bermusyawarah sifatnya hanya penawaran saja.
· Memiliki kepercayaan rendah terhadap bawahan dan kalaupun kepercayaan diberikan, di dalam dirinya penuh ketidakpercayaan.
· Komunikasi dilakukan secara tertutup dan satu arah.
· Korektif dan minta penyelesaian tugas pada waktu sekarang.
Kelebihan tipe kepemimpinan otoriter:
· Seorang pemimpin otoriter biasanya bersifat pekerja keras dan memiliki disiplin tinggi.
· Penentuan keputusan lebih cepat karena tidak menggunakan musyawarah atau diskusi.
Kekurangan tipe kepemimpinan otoriter:
· Bawahan tidak memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapat atau ide-ide baru.
· Kurangnya komunikasi antara pimpinan dan bawahan.
· Bawahan kurang dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
Sumber: http://aritmaxx.wordpress.com/2011/04/03/kepemimpinan-otoriter/
2. Demokratis
Dari semua tipe kepemimpinan yang
ada, tipe kepemimpinan demokratis dianggap adalah tipe kepemimpinan yang
terbaik. Hal ini disebabkan karena tipe kepemimpinan ini selalu mendahulukan
kepentingan kelompok dibandingkan dengan kepentingan individu.
Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut:
· Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
· Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.
· Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
· Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan kepada bawahan agar jangan
berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
· Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
· Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
· Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Dari sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tipe demokratis, jelaslah bahwa tidak mudah untuk menjadi pemimpin demokratis.
Beberapa ciri dari tipe kepemimpinan demokratis adalah sebagai berikut:
· Dalam proses menggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia itu adalah mahluk yang termulia di dunia.
· Selalu berusaha menselaraskan kepentingan dan tujuan pribadi dengan kepentingan organisasi.
· Senang menerima saran, pendapat dan bahkan dari kritik bawahannya.
· Mentolerir bawahan yang membuat kesalahan dan berikan pendidikan kepada bawahan agar jangan
berbuat kesalahan dengan tidak mengurangi daya kreativitas, inisyatif dan prakarsa dari bawahan.
· Lebih menitik beratkan kerjasama dalam mencapai tujuan.
· Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
· Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
Dari sifat-sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tipe demokratis, jelaslah bahwa tidak mudah untuk menjadi pemimpin demokratis.
3. Liberal
Disebut juga gaya KEBEBASAN, adalah kemampuan mempengaruhi
orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan lebih banyak
diserahkan kepada bawahan. “laissez-faire” secara harafiah berarti “allow
(them) to do” (mengijinkan mereka bekerja), atau “to leave alone” (biarkan
sendiri), “free – rein” berasal dari kata “free” bebas dan “rein” (kendali),
jadi “free-rein” secara harafiah berarti BEBAS KENDALI.
CIRI KEPEMIMPINAN LIBERAL:
1. Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan;
2. Keputusan lebih banyak dibuat oleh para bawahan;
3. Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh para bawahan;
4. Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahannya;
5. Hamper tiada pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan, atau kegiatan yang dilakukan para bawahannya;
6. Prakarsa selalu datang dari para bawahan;
7. Hamper tiad pengarahan dari pimpinan;
8. Peranan pemimpin sangat sedikit;
9. Kepemimpinan pribadi lebih utama dari pada kepentingan kelompok;
1. Pemimpin melimpahkan wewenang sepenuhnya kepada bawahan;
2. Keputusan lebih banyak dibuat oleh para bawahan;
3. Kebijaksanaan lebih banyak dibuat oleh para bawahan;
4. Pimpinan hanya berkomunikasi apabila diperlukan oleh bawahannya;
5. Hamper tiada pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan, atau kegiatan yang dilakukan para bawahannya;
6. Prakarsa selalu datang dari para bawahan;
7. Hamper tiad pengarahan dari pimpinan;
8. Peranan pemimpin sangat sedikit;
9. Kepemimpinan pribadi lebih utama dari pada kepentingan kelompok;
10. Tanggung
jawab keberhasilan organisasi dipikul oleh orang per orang.
Sumber:
Sutarto, Dasar-dasar, Kepemimpinan Administrasi, Gajah Mada
University Press, 1986, h. 77-7
Teori-teori
diatas memberikan pemahan kepada pemimpin bagaimana nantinya untuk menjadi
“Agent Of Change” dalam organisasinya sendiri demi mencapai tujuan, menjadikan
kepemimpinan yang efisien, efektif dan rasional.
Tetapi
bukan sekedar memahami teori-teori kepemimpinan, melainkan bagaimana memimpin
dengan professional dan jujur. Dalam bekerja sama, pemimpin harus mempunyai
kehangatan, semangat, dan kepekaan. Situasi hubungan pimpinan dan anggota lain
perlu diperhatikan.
Sekian dan semoga bisa dipahami……!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar